Harga umum turun. Kebalikan inflasi. Bahaya untuk ekonomi.
Apa itu Deflasi?
Deflasi adalah kebalikan dari Inflasi: kondisi di mana harga barang dan jasa secara umum turun dari waktu ke waktu, meningkatkan daya beli uang. Meskipun terdengar positif bagi konsumen, deflasi sebenarnya sangat berbahaya bagi ekonomi karena menciptakan lingkaran setan yang sulit dihentikan. Bank sentral modern hampir selalu menganggap deflasi lebih berbahaya dibanding inflasi moderat karena instrumen kebijakan moneter konvensional kehilangan efektivitas saat suku bunga mendekati nol dan tidak bisa diturunkan lagi.
Spiral Deflasi
Masalah utama deflasi adalah efek psikologisnya. Ketika konsumen melihat harga terus turun, mereka menunda pembelian besar karena mengharapkan harga lebih murah di masa depan. Akibatnya, permintaan turun, perusahaan kurangi produksi, PHK meningkat, pendapatan masyarakat menurun, permintaan semakin rendah, dan spiral berlanjut. Perusahaan juga sulit menaikkan upah atau membayar utang karena revenue mereka turun. Jepang adalah contoh klasik: negara ini mengalami deflasi intermittent selama lebih dari 20 tahun (1990-an hingga 2010-an) yang dikenal sebagai "lost decades".
Respons Bank Sentral dan Forex
Saat deflasi mengancam, bank sentral biasanya menurunkan Suku Bunga ke nol atau bahkan negatif, meluncurkan program Quantitative Easing (QE) besar-besaran, dan memberi Forward Guidance dovish yang agresif. Semua ini biasanya menyebabkan mata uang melemah. Trader Indonesia jarang menghadapi deflasi di IDR (Indonesia punya inflasi struktural), tapi deflasi di Jepang atau zona euro sering mempengaruhi EUR/JPY dan USD/JPY secara signifikan. Lihat Panduan Pemula.
Istilah Terkait
Inflasi
Kenaikan harga umum. Kurangi daya beli uang. Diukur CPI. Target bank sentral biasanya 2%.
Disinflation
Inflasi melambat tapi masih positif. Contoh: dari 6% ke 4% ke 2%. Beda deflasi.
Quantitative Easing (QE)
Bank sentral beli obligasi untuk tambah likuiditas. Dipakai saat suku bunga sudah 0%. Mata uang lemah.
Siap trading live?
Exness.Pilihan kami untuk strategi fleksibel. Leverage hingga 1:2000, penarikan instan, akun syariah tersedia, diatur oleh FCA, CySEC, dan FSCA.
78.79% akun CFD ritel merugi saat trading dengan penyedia ini.